Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Story’ Category

Jika kota Mekah terkesan semrawut dan kumuh, maka kota Madinah sebaliknya, lebih teratur, bersih  dan tertib. Jalan-jalan di Mekah terlihat kotor dan bising oleh bunyi klakson mobil yang tidak pernah berhenti. Sedangkan jalan-jalan di kota Madinah terlihat bersih, mungkin karena volume orang yang berkunjung ke kota ini juga jauh lebih sedikit daripada ke kota Mekah.

Jika di Mekah pengendara mobil lebih diutamakan sehingga klakson mobil terus berbunyi untuk mengusir pejalan kaki, maka di madinah pejalan kaki adalah prioritas sehingga pengendara mobil lebih bersabar untuk memberi jalan pada pejalan kaki.

Kalo di Mekah memiliki kontur berbukit-bukit  dan dikelilingi gunung bercadas maka di Madinah cenderung datar. Di Madinah pengaturan letak bangunan-bangunannya pun terlihat lebih rapi, dan lebih mengutamakan keindahan, menjaga kewibawaan dan kemegahan masjid Nabawi. Namun tidak demikian dengan di Mekah yang bangunannya terlihat tidak beraturan dan mengalahkan keagungan dan kesakralan Masjidil Haram.

Jika Masjidil Haram terkesan dinamis dan serba terburu-buru, maka masjid Nabawi terkesan damai dan tenang. Nuansa Rasulullah sangat terasa di masjid Nabawi dan kota Madinah. Pertama kali saya memasuki kota Madinah bersama rombongan Formatra-Riyadh, hati terasa sejuk dan damai. Ketika memasuki masjid Nabawi yang teduh semakin terasa ketenangan dan kedamaiannya. Di masjid Nabawi tidak sekalipun terdengar teriakan kasar asykar yang menertibkan jamaah haji atau umroh seperti di masjidil Haram. Orang-orang di Madinah pun terkesan lebih santun dan penyabar dibandingkan dengan di Mekah yang serba terlihat sibuk dan terburu-buru. Di masjid Nabawi hampir tidak ada orang yang melangkahi kepala-kepala jamaah lain ketika sedang bersujud. Sedangkan di Mekah banyak terlihat orang yang melangkahi dan melewati jamaah yang sedang melakukan shalat.

Selama berada di masjid Nabawi saya sangat merasakan kedamaian dan keindahannya, sehingga rasanya ingin selalu berada di dalamnya dan terasa berat untuk meninggalkannya. Bagaimana dengan anda…?

Read Full Post »

Kisah Di Balik Layar “DAMAI” Aceh

oleh: Jusuf Kalla (http://jusufkalla.kompasiana.com/)

Sebenarnya keterlibatan saya dalam menyelesaikan Konflik Aceh itu hanya kebetulan belaka. Meski sebenarnya sebelum mendamaikan Aceh, saya sudah memiliki pengalaman dalam mendamaikan Ambon dan Poso. Bagi anda yang belum begitu mengetahui bagaimana cerita di balik layar tentang proses perdamaian Aceh, maka saya akan menceritakan kepada anda semua.
(more…)

Read Full Post »

Bermain sepakbola di lapangan kecil atau lebih dikenal dengan nama futsal merupakan hobi yang sering saya lakukan selain bulutangkis. Ketika saya sekolah di Jepang, tepatnya di Osaka, bermain futsal hampir saya lakukan setiap minggu dengan sahabat-sahabat di Osaka waktu itu. Ada mas Rahman si ganteng merangkap kapten PBB OSAKA, ada bung Fidens batak yang baik hati, mas Widodo wow keren, mas Eddy tv, mas Bejo si pengusaha, Pak Rifki sang jenderal, mas Fahmithea tukang supporter, mas Aulia, pak Dadin, pak Eddy, pak Satya, pak Yoki, pak Nur, pak Chusnul, pak Irfan, pak Agung sang penyemangat, mas Agus sang sufi, pak Budi si penyelam dan masih banyak sahabat-sahabat yang lain.

(more…)

Read Full Post »

Luar biasa… begitu kesan saya pertama ketika meluncurkan webblog info2biotek ini. Kurang dari sehari sudah diklik lebih dari 173 pengunjung. Padahal related link blog ini masih saya matikan, artinya belum akan terindex oleh mesin pencari seperti google dan yahoo, karena target “market” untuk sementara ini masih untuk kalangan intern. Alhamdulillah, sampai tulisan ini dibuat hasilnya sudah mampu mencapai di atas angka 173 klik. Dan anda bisa bayangkan angka ini dicapai hanya dalam waktu kurang dari sehari, ya kurang dari sehari.

Sahabat, kalau anda seorang dai yang ingin berdakwah, maka blog adalah sarana yang menarik untuk dipakai untuk memberikan pencerahan agama lewat tulisan-tulisan anda. Itulah sebabnya mengapa waktu itu saya termasuk orang yang mendukung dengan penuh semangat ide Mas Imam (Tekbat) untuk mengadakan pelatihan mengenai “ngeblog” kepada para aktivis dakwah yang ada di Arab Saudi dan alhamdulillah ternyata ide tersebut di setujui oleh panitia. Terimaksih kepada ketua panitia dan ketua sie acara yang rela menyisipkan acara pelatihan “dakwah lewat blog” di sela-sela jadwal yang sangat padat. Semoga dengan di picu oleh tulisan-tulisan saya di blog ini mereka akan segera bertebaran di dunia maya, untuk menjelaskan pada dunia mengapa justru nilai-nilai Islam banyak diterapkan di Jepang yang mengakui bahwa “dewa” nya adalah matahari.

OK, kembali ke LAPTOP…

(more…)

Read Full Post »

Hampir dua tahun tinggal di Arab Saudi dan tiga tahun tinggal di Jepang, rasanya selalu menarik untuk menceritakan kepada para sahabat di blog ini  sikap dan budaya masyarakat kedua negara tersebut. Tulisan ini hanya akan mengulas sikap dan budaya masyarakat kedua negara khususnya yang bergerak di bidang riset dan dunia akademik yang saya alami sendiri. Jadi tulisan ini merupakan pengalaman pribadi saya selama tinggal di dua negara tersebut.

Masyarakat akademis di Jepang biasa kerja dari jam 8.30 pagi sampai di atas jam 9 malam. Adalah hal yang biasa jika lab-lab riset di Jepang masih ramai sampai di atas jam 11 malam. Justru akan terlihat aneh bila ada lab di Jepang yang sudah sepi pada jam 7 malam. Waktu tinggal di Jepang, jam kerja saya dari jam 8 pagi sampai jam 9 malam. Jam kerja ini saya sesuaikan dengan bus jemputan yang disediakan oleh kampus terutama waktu berangkat dari asrama ke kampus. Bus pertama berangkat dari asrama jam 7 pagi dan bus terakhir dari kampus jam 6 sore. Kebetulan waktu itu saya dan keluarga tinggal di asrama mahasiswa yang jarak tempuhnya antara kampus-asrama sekitar 30 menit dengan bus kampus. Jadi lumayan bisa gratis ke kampus. Kalo dengan kereta harus mengeluarkan ongkos sekitar 620 yen (sekitar 70.000 rupiah) untuk pulang-pergi. Tapi jam kerja ini bisa “unlimited” ketika menghadapi dead line baik paper seminar, journal report, progress report maupun thesis. Ketika mendekati dead line, saya bersama mahasiswa lain biasa tidak tidur sampai pagi hari, tapi justru asyik kelayapan di dalam lab bereksperimen ria. Tapi jangan khawatir, karena ngelab di Jepang sangat menyenangkan dan kampus menyediakan semua fasilitas yang kita butuhkan ketika bekerja di lab, dari kelengkapan alat dan bahan laboratorium, akses internet 24 jam, akses perpustakaan, dan mesin makanan otomatis yang siap melayani kita selama 24 jam nonstop. Itulah sebabnya mengapa masyarakat dunia memberi “stempel” masyarakat jepang sebagai orang-orang “GILA KERJA” atau “WORKAHOLIC”. Karena mereka memang orang-orang yang serius, pekerja keras, sangat taat pada aturan, sangat menghargai waktu, tertib dan sangat mencintai produk dalam negeri. Jepang adalah negara yang tidak memiliki sumber kekayaan alam, tapi mereka mampu menjelma menjadi raksasa ekonomi dunia dengan semangat “GILA KERJANYA”.

(more…)

Read Full Post »