Catatan Seorang Petualang

Diplomasi Sains dan Senyum

Advertisements

Setelah melewati fase sejarah kelam akibat kalah perang, Jepang mampu bangkit dan membuka mata dunia dengan membuktikan dirinya menjadi bangsa yang pilih tanding dalam bidang sains. Jika dirunut ke belakang, dapat diketahui bahwa keunggulan Jepang dalam bidang sains memang dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya budaya ilmiah yang telah mendarah daging dalam sistem pendidikan mereka dan menempatkan budaya senyum dalam posisi penting di hubungan masyarakat internasional.

Anda tentu masih ingat, pertanyaan pertama yang muncul dari kaisar Jepang ketika kalah perang adalah “berapa jumlah guru yang masih tersisa?” bukan tentang panglima perang atau amunisi. Kaisar Jepang juga memerintahkan kepada warganya untuk membentuk dan memperbanyak wahana sumber ilmu pengetahuan melalui penerjemahan buku dan perpustakaan desa. Itulah sebabnya mengapa orang Jepang terkenal “gila baca” hingga saat ini.

Bertumpu pada karakter masyarakatnya yang suka tersenyum, ramah, pekerja keras dan disiplin, Jepang mampu bangkit dari kehancuran akibat perang dalam waktu yang singkat. Mereka cepat mengambil pelajaran dan menerapkan prinsip “kaizen” (improvisasi) dengan cara mengambil yang baik, membuang yang buruk dan menciptakan yang baru. Kita lihat produk-produk mobil Jepang yang murah, irit, kecil dan ringan menguasai hampir seluruh jalanan di dunia yang mampu menggantikan mobil eropa yang besar, berat, mahal dan boros.

Lewat keberhasilannya menguasai bidang sains, Jepang telah memilih jalur diplomasi yang tepat. Sejak kalah perang, konstitusi mereka melarang pembentukan tentara perang. Oleh karena itu mereka berusaha menjadi negara yang dicintai oleh masyarakat dunia. Kita lihat, meskipun di kenal sebagai sekutu dekat Amerika, Jepang tetap dicintai oleh masyarakat dunia. Lihatlah, lembaga-lembaga bantuan Jepang di bidang sains seperti JICA, JSPS, Japan Foundation dll, berdiri di hampir seluruh negara di dunia, dari negara maju, berkembang hingga negara miskin. Lewat departemen pendidikan, olaharaga dan budaya (monbukagakusho), mereka mengundang dan memberi beasiswa kepada mahasiswa dan peneliti berpotensi di seluruh dunia untuk belajar sains di Jepang. Di tahun pertama, para mahasiswa asing tersebut diberi pelajaran mendalam tentang Jepang diantaranya bahasa Jepang, kebijakan politik sains jepang dan nilai-nilai luhur budaya Jepang. Sehingga tidak heran, mahasiswa asing lulusan Jepang sangat mencintai Jepang. Jepang telah berhasil menerapkan diplomasi sains dan memenangkan perang pemikiran dan budaya. Mereka tidak perlu mengerahkan para dubes nya untuk berkampanye meningkatkan citra Jepang. Cukup lewat mahasiswa asing yang mereka didik, tanpa di minta pun mereka akan mengkampanyekan Jepang sebagai negara yang maju, aman, tentram, sejahtera, pekerja keras, disiplin dan berbudaya luhur. Mereka telah melupakan dosa-dosa Jepang di masa lalu.

Sukses diplomasi sains Jepang, rupanya menginspirasi Barack Obama dan tim sains nya. Kegagalan diplomasi perang yang dimainkan oleh Bush telah menjerumuskan Amerika ke jurang terdalam. Kita tahu, Amerika menjadi negara yang paling di benci. Lewat tangan Barack Obama yang memiliki darah asia dan afrika, mereka ingin merubah citra menjadi negara yang dicintai masyarakat dunia. Kini, diplomasi sains telah memberi cahaya baru dalam peranan hubungan luar negeri Amerika di berbagai kawasan dunia. Obsesi Obama adalah menyatukan masyarakat dunia lewat diplomasi sains, karena sains adalah bahasa universal. Langkah nya telah mereka lakukan dengan memberi bantuan teknologi kepada negara-negara Afrika dengan mengenalkan teknologi energi matahari dan pengembangan pertanian yang berkualitas. Target selanjutnya tentu negara-negara Arab dengan membrikan bantuan teknologi pengolahan air bersih.

Budaya Senyum Indonesia

Lantas bagaiman dengan Indonesia?

Di bidang sains, jelas Indonesia masih tertinggal jauh dibanding Jepang dan Amerika. Tapi ada diplomasi lain yang bisa diterapkan oleh masyarakat Indonesia yaitu budaya senyum. Sebagai negara yang menganut budaya timur seperti Jepang, Indonesia juga mampu meningkatkan citranya melalui budaya senyum. Mengutip laporan The Smiling Report 2009 yang dilakukan salah satu Provider Misteri Belanja yang berada di Swedia, melaporkan bahwa Indonesia berada di tingkat pertama dalam urutan negara dengan masyarakatnya tersenyum paling tinggi di dunia dibandingkan dengan negara lainnya. Diplomasi senyum juga terbukti mampu memberi kemudahan tugas para prajurit Indonesia di medan internasional. Lihatlah tentara garuda yang bertugas menjaga perdamaian di Lebanon, mereka mudah diterima dan mendapat tempat terhormat di Lebanon karena selalu mengembangkan senyum dalam berkomunikasi. Diplomasi senyum pasukan TNI, memang telah memberi kesejukan dan kesan tersendiri bagi warga Lebanon. Diplomasi senyum pasukan TNI juga dianggap salah satu kunci penting dalam mewujudkan misi perdamaian di Lebanon. Selain itu diplomasi senyum yang dilakukan oleh seluruh masyarakat Indonesia yang berada di luar negeri jugatelah menempatkan Indonesia sebagai negara yang ramah, murah senyum, lemah lembut, berhati mulia dan memiliki budaya luhur. Dan harapan untuk membangun citra Indonesia agar semakin baik di mata dunia dengan seyum khas Indonesia sepertinya masih ada. Semoga…

Advertisements

Advertisements