Catatan Seorang Petualang

Antara Arab Saudi dan Jepang Part 2

Advertisements

Luar biasa… begitu kesan saya pertama ketika meluncurkan webblog info2biotek ini. Kurang dari sehari sudah diklik lebih dari 173 pengunjung. Padahal related link blog ini masih saya matikan, artinya belum akan terindex oleh mesin pencari seperti google dan yahoo, karena target “market” untuk sementara ini masih untuk kalangan intern. Alhamdulillah, sampai tulisan ini dibuat hasilnya sudah mampu mencapai di atas angka 173 klik. Dan anda bisa bayangkan angka ini dicapai hanya dalam waktu kurang dari sehari, ya kurang dari sehari.

Sahabat, kalau anda seorang dai yang ingin berdakwah, maka blog adalah sarana yang menarik untuk dipakai untuk memberikan pencerahan agama lewat tulisan-tulisan anda. Itulah sebabnya mengapa waktu itu saya termasuk orang yang mendukung dengan penuh semangat ide Mas Imam (Tekbat) untuk mengadakan pelatihan mengenai “ngeblog” kepada para aktivis dakwah yang ada di Arab Saudi dan alhamdulillah ternyata ide tersebut di setujui oleh panitia. Terimaksih kepada ketua panitia dan ketua sie acara yang rela menyisipkan acara pelatihan “dakwah lewat blog” di sela-sela jadwal yang sangat padat. Semoga dengan di picu oleh tulisan-tulisan saya di blog ini mereka akan segera bertebaran di dunia maya, untuk menjelaskan pada dunia mengapa justru nilai-nilai Islam banyak diterapkan di Jepang yang mengakui bahwa “dewa” nya adalah matahari.

OK, kembali ke LAPTOP…

Rasanya sangat menarik untuk menyimak komentar para sahabat baik yang ditujukan lewat milis maupun lewat blog secara langsung. Saya katakan menarik, karena komentar-komentar merekalah yang memang akan saya tulis dalam “Antara Arab Saudi dan Jepang Part 2”.
OK, kita kembali ke pertanyaan di “Antara Arab Saudi dan Jepang”, bagaimana sikap dan budaya kerja masyarakat akademik Arab Saudi?

Perbedaan yang paling mencolok “Antara Arab Saudi dan Jepang”, kalau masyarakat akademik Jepang adalah “pecinta kerja”, maka masyarakat akademik Arab Saudi adalah “penikmat hidup”. Limpahan kekayaan alam yang luar biasa dan tiada hentinya aliran jamaah yang ingin menunaikan ibadah ke Masjidil Haram, telah mendorong masyarakat Arab Saudi menjadi “penikmat hidup” sejati. Jam kerja resmi pelayanan dunia akademik di Arab Saudi adalah jam 8 pagi sampai jam 2 siang, tetapi jam kerja ini hanya efektif dari jam 10 pagi sampai jam 12 siang. Sebagai penikmat hidup, ketika mereka datang ke kantor di pagi hari, mereka akan menghabiskan waktu dengan saling bertegur sapa, saling bercengkerama, saling bertanya kabar masing-masing dan pertanyaan-pertanyaan tersebut selalu di ulang berkali-kali. Selesai berbasa-basi mereka tidak langsung bekerja, tetapi mengajak minum teh atau kopi pagi bersama. Pada saat menikmati hidup seperti ini mereka tidak akan peduli dengan urusan pekerjaan, meskipun antrian mahasiswa yang minta dilayani terlihat panjang seperti ular. Ketika ada mahasiswa atau peneliti yang protes karena dikejar waktu kuliah atau kegiatan lab, mereka cuma bilang “suwayya”, dan kembali melanjutkan ngobrol santai sambil minum kopi. Sungguh, mereka benar-benar penikmat hidup, bagi mereka hidup hanyalah sementara untuk apa di buat susah, lebih baik nikmati hidup yang hanya sementara ini. Sepertinya, bagi mereka menikmati hidup adalah “harga mati” dan tidak bias diganggu gugat oleh siapa pun.

Sepenting dan segenting apapun urusan anda, selama mereka masih dalam suasana menikmati hidup, mereka tidak akan peduli terhadap anda. Ketika anda protes maka mereka akan bilang “bukro” atau anda akan ditunjukkan untuk menghadap ke bagian lain. Mereka tak peduli, bagi mereka yang penting anda hilang dari hadapan mereka, sehingga mereka bisa kembali santai untuk menikmati hidup. Ciri lain bahwa mereka benar-benar penikmat hidup adalah banyaknya dan lamanya haris libur. Boleh dibilang, dalam 1 tahun total hari libur di Arab Saudi lebih dari 4 bulan. Bandingkan dengan Jepang yang total liburnya hanya 1 bulan dalam 1 tahun, itu pun masih harus di potong kerja lembur di lab.

Anda juga harus maklum, di Arab Saudi konsumen hanyalah orang butuh sesuatu dan dianggap akan merepotkan si penjual, jadi harus banyak mengalah. Di Arab Saudi konsumen bukanlah “dewa” seperti di Jepang. Pelayanan yang tidak memuaskan dan penyambutan yang tidak ramah adalah hal yang biasa, lumrah dan tidak aneh ketika anda berada di Arab Saudi. Jadi sikap “sabar” dan “menerima” harus melekat di dalam diri anda. Sikap positif yang bisa anda dapatkan selama berinteraksi dengan masyarakat akademik di Arab Saudi adalah latihan kesabaran dan bisa menerima kondisi apapun dengan ikhlas. Toh “mengeluh” pun tidak ada manfaatnya untuk anda. Mereka adalah penikmat hidup, dan menikmati hidup adalah “harga mati” dan tidak bisa diganggu gugat oleh siapa pun. Jelas, sangat berbeda sikap dan perilaku orang “penikmat hidup dan “pecinta kerja”. Penikmat hidup menganggap dunia adalah miliknya sendiri, sementara pecinta kerja menganggap dunia harus dibagi sehingga ada orang yang bisa merasakan dan menghargai pekerjaannya.

Sikap lain yang juga menonjol di kalangan masyarakat akademik di Arab Saudi adalah rasa percaya dirinya yang sangat tinggi dan sering memberi perlakuan yang merendahkan terhadap para mahasiswa maupun peneliti asing yang datang dari negara berkembang. Namun demikian, sikap “underestimate” ini akan hilang dengan sendirinya jika anda mampu memberikan prestasi akademik dan hasil riset yang luar biasa. Jika prestasi anda biasa-biasa saja, maka mereka tetap akan merendahkan anda. Tingginya rasa percaya diri yang dimiliki oleh masyarakat akademik Arab Saudi bukan berarti mereka anti kritik. Mereka adalah orang-orang yang sangat terbuka dan siap menerima kritik. Mereka juga sangat suka berdiskusi, berdebat dan adu argumentasi. Bisa dibilang hobi mereka adalah berdebat. Meskipun hasil akhirnya mereka selalu ingin memaksakan kehendaknya sendiri. Namun demikian perbedaan pendapat, setajam apapun akan hilang dengan sendirinya ketika mereka berkumpul bersama untuk minum teh atau kopi di pagi hari.

Sikap positif lain yang dimiliki oleh masyarakat akademik Arab Saudi adalah disiplin menjalankan sholat berjamaah. Begitu alunan suara azan diperdengarkan, mereka akan menghentikan semua aktivitasnya. Mereka bergegas mengambil air wudhu dan siap menjalankan sholat secara berjamaah tepat waktu. Sehingga saat tiba waktu sholat, seluruh musholla dan masjid selalu penuh oleh jamaah. Anda akan sulit menemukan aktivitas sholat berjamaah dimana seluruh masjid penuh oleh jamaah ketika di Jepang. Masjid-masjid di Jepang selalu penuh sesak oleh jamaah hanya pada saat sholat Jum’at.

Sekarang pilihan ada pada anda, anda ingin menjadi “pecinta kerja”, “penikmat hidup” atau anda punya pilihan sendiri…karena hidup adalah pilihan.
RELATED LINK: PART1 Di SINI

Advertisements

Advertisements