Catatan Seorang Petualang

Antara Arab Saudi dan Jepang

Advertisements

Hampir dua tahun tinggal di Arab Saudi dan tiga tahun tinggal di Jepang, rasanya selalu menarik untuk menceritakan kepada para sahabat di blog ini  sikap dan budaya masyarakat kedua negara tersebut. Tulisan ini hanya akan mengulas sikap dan budaya masyarakat kedua negara khususnya yang bergerak di bidang riset dan dunia akademik yang saya alami sendiri. Jadi tulisan ini merupakan pengalaman pribadi saya selama tinggal di dua negara tersebut.

Masyarakat akademis di Jepang biasa kerja dari jam 8.30 pagi sampai di atas jam 9 malam. Adalah hal yang biasa jika lab-lab riset di Jepang masih ramai sampai di atas jam 11 malam. Justru akan terlihat aneh bila ada lab di Jepang yang sudah sepi pada jam 7 malam. Waktu tinggal di Jepang, jam kerja saya dari jam 8 pagi sampai jam 9 malam. Jam kerja ini saya sesuaikan dengan bus jemputan yang disediakan oleh kampus terutama waktu berangkat dari asrama ke kampus. Bus pertama berangkat dari asrama jam 7 pagi dan bus terakhir dari kampus jam 6 sore. Kebetulan waktu itu saya dan keluarga tinggal di asrama mahasiswa yang jarak tempuhnya antara kampus-asrama sekitar 30 menit dengan bus kampus. Jadi lumayan bisa gratis ke kampus. Kalo dengan kereta harus mengeluarkan ongkos sekitar 620 yen (sekitar 70.000 rupiah) untuk pulang-pergi. Tapi jam kerja ini bisa “unlimited” ketika menghadapi dead line baik paper seminar, journal report, progress report maupun thesis. Ketika mendekati dead line, saya bersama mahasiswa lain biasa tidak tidur sampai pagi hari, tapi justru asyik kelayapan di dalam lab bereksperimen ria. Tapi jangan khawatir, karena ngelab di Jepang sangat menyenangkan dan kampus menyediakan semua fasilitas yang kita butuhkan ketika bekerja di lab, dari kelengkapan alat dan bahan laboratorium, akses internet 24 jam, akses perpustakaan, dan mesin makanan otomatis yang siap melayani kita selama 24 jam nonstop. Itulah sebabnya mengapa masyarakat dunia memberi “stempel” masyarakat jepang sebagai orang-orang “GILA KERJA” atau “WORKAHOLIC”. Karena mereka memang orang-orang yang serius, pekerja keras, sangat taat pada aturan, sangat menghargai waktu, tertib dan sangat mencintai produk dalam negeri. Jepang adalah negara yang tidak memiliki sumber kekayaan alam, tapi mereka mampu menjelma menjadi raksasa ekonomi dunia dengan semangat “GILA KERJANYA”.

Masyarakat Jepang menganggap janji adalah “harga diri”. Bagi masyarakat Jepang, orang yang tidak menepati janji adalah orang yang tidak punya “harga diri”. Dan orang yang merasa tidak punya harga diri biasanya akan melakukan “harakiri” atau bunuh diri. Tingginya kasus bunuh diri di Jepang salah satunya adalah karena mereka menganggap orang yang tidak punya harga diri tidak layak untuk hidup. Karena itu selama saya tinggal di Jepang tidak ada istilah “ingkar janji” karena mereka tahu resikonya orang yang tidak menepati janji. Selain selalu menepati janji mereka juga adalah orang-orang yang sangat disiplin terhadap waktu dan taat pada aturan yang dibuatnya.

Masyarakat Jepang sangat menghargai mahasiswa dan peneliti asing termasuk juga semua orang asing yang bukan mahasiswa. Mereka sadar bahwa orang asing adalah tamu yang harus dihormati dan dilayani. Urusan administrasi kampus di Jepang dalam melayani mahasiswa asing bisa selesai hanya dalam hitungan menit, dengan syarat semua  berkas yang diminta telah lengkap. Mereka adalah orang-orang yang tidak mengenal istilah “bukro” atau “maalish”.

Di Jepang konsumen adalah raja, jika anda tidak puas dengan barang yang sudah anda beli karena cacat, anda bisa mengembalikan dan mereka dengan senang hati akan menerima dan bahkan jangan kaget jika anda juga akan mendapat hadiah yang sangat menarik dari si penjual. Itulah masyarakat Jepang, mereka benar-benar menerapkan konsep konsumen adalah raja dan tamu adalah orang yang harus di hormati dan dilayani. Mereka juga yakin, dengan sikap dan budaya positif yang mereka tunjukkan pada orang asing yang tinggal di Jepang, mereka telah melakukan kerja diplomasi yang luar biasa. Orang asing yang pulang ke negara asal akan membawa kesan positif selama tinggal di Jepang dan akan selalu menceritakan pada semua orang bahwa Jepang adalah negara yang masyarakatnya ramah, disiplin, tertib, taat, pekerja keras, selalu menepati janji, disiplin dan semua sifat-sifat baik. Saya juga yakin anda akan melupakan sifat-sifat buruk Jepang di masa lalu. Itulah diplomasi budaya dan pendidikan yang dilakukan oleh masyarakat Jepang, khususnya masyarakat akademiknya.

Lantas bagaimana dengan sikap dan budaya kerja masyarakat akademik Arab Saudi?
Sungguh…cerita yang sangat berbeda dan bertolak belakang, saya sendiri sampai saat ini belum berani untuk menceritakan kepada para sahabat yang membaca blog ini.
Mungkin dilain waktu dan kesempatan saya akan menceritakan kepada anda…atau bahkan harus menceritakan kepada anda…

Advertisements

Advertisements