Indonesia. Bukannya apa-apa, Anda bisa saja membeli tiket business
class atau first class yang harganya dua atau tiga kali lipat dari
harga tiket kelas ekonomi, tapi tak seorang pun bisa membeli waktu. Ia
menguap begitu saja di tangan petugas-petugas imigrasi yang bodoh,
lamban, tidak peduli, dan hanya fokus pada kertas-kertas di meja
mereka.
Petugas yang tidak peduli mengakibatkan antrean tidak beraturan,
menimbulkan ketidakadilan dari praktik-praktik kebohongan warga
negaranya sendiri. Saya tidak habis berpikir, bagaimana mungkin para
birokrat itu bekerja sangat serius untuk menyeleksi nama-nama yang
boleh masuk ke negaranya demi keamanan, tetapi membiarkan benihbenih
kecurangan tumbuh. Dan benih-benih kecurangan menimbulkan efek
berantai yang berbahaya bagi masa depan negeri itu sendiri.
Ketika sedang asyik chating dengan kawan-kawan di Jogja, Jepang, Jerman dan Belanda mendiskusikan kabar terkini tentang situasi politik di Indonesia, tiba-tiba datang serombongan wanita yang berjumlah ratusan orang menanyakan tempat menunggu untuk penerbangan ke Jakarta, “mas, kalo mau ke Jakarta tempat nunggunya dimana, ya?” begitu bunyi pertanyaan salah seorang dari rombongan. Awalnya saya tetap asyik chatting dan menjawab sekenanya sesuai dengan yang ditanyakan. Tapi melihat rombongan wanita dalam jumlah besar dengan pakaian yang lusuh dan tampak wajah-wajah layu akibat duka dan kelelahan, ada rasa kasihan dan ingin tahu apa yang terjadi dengan mereka. Setelah sedikit berbasa-basi dengan mengenalkan diri, asal, dan tujuan akhir penerbangan saya, mereka tanpa diminta menceritakan semua yang mereka alami. Mereka adalah rombongan TKW yang dideportasi dari salah satu negara di kawasan timur tengah. Sebelum dideportasi mereka telah dipenjara selama 1 minggu – 6 bulan. Kasus pendeportasian mereka, kebanyakan karena mereka melarikan diri dari majikan. Alasan mereka melarikan diri juga beragam, ada yang karena melawan ketika ada pelecehan seksual, gaji tidak di bayar, di siksa dan diperlakukan tidak manusiawi, bekerja dengan jam kerja “unlimited”, dan ada yang dipekerjakan tidak sesuai dengan kontrak.








