Ketika sedang asyik chating dengan kawan-kawan di Jogja, Jepang, Jerman dan Belanda mendiskusikan kabar terkini tentang situasi politik di Indonesia, tiba-tiba datang serombongan wanita yang berjumlah ratusan orang menanyakan tempat menunggu untuk penerbangan ke Jakarta, “mas, kalo mau ke Jakarta tempat nunggunya dimana, ya?” begitu bunyi pertanyaan salah seorang dari rombongan. Awalnya saya tetap asyik chatting dan menjawab sekenanya sesuai dengan yang ditanyakan. Tapi melihat rombongan wanita dalam jumlah besar dengan pakaian yang lusuh dan tampak wajah-wajah layu akibat duka dan kelelahan, ada rasa kasihan dan ingin tahu apa yang terjadi dengan mereka. Setelah sedikit berbasa-basi dengan mengenalkan diri, asal, dan tujuan akhir penerbangan saya, mereka tanpa diminta menceritakan semua yang mereka alami. Mereka adalah rombongan TKW yang dideportasi dari salah satu negara di kawasan timur tengah. Sebelum dideportasi mereka telah dipenjara selama 1 minggu – 6 bulan. Kasus pendeportasian mereka, kebanyakan karena mereka melarikan diri dari majikan. Alasan mereka melarikan diri juga beragam, ada yang karena melawan ketika ada pelecehan seksual, gaji tidak di bayar, di siksa dan diperlakukan tidak manusiawi, bekerja dengan jam kerja “unlimited”, dan ada yang dipekerjakan tidak sesuai dengan kontrak.
Cerita mereka dari mulut yang jujur tersebut tentu saja tidak mengagetkan saya karena berita tentang kisah duka para TKW yang disiksa, diperkosa, tidak digaji dan diperlakukan tidak manusiawi oleh majikan sudah sering saya baca dan dengar di berbagai media. Namun “emosinya” ternyata berbeda ketika mendengar cerita langsung dari “korban” dengan hanya sekedar baca di berita. Sehingga ada pertanyaan yang cukup mengusik emosi saya, sebenarnya pemerintah Indonesia menganggap TKW sebagai pahlawan devisa atau pecundang?.
Pertanyaan tersebut terpaksa saya ajukan karena dalam banyak kesempatan, pemerintah melalui depnaker dan BNP2TKI mengakui bahwa TKW sebagai penyumbang devisa terbesar bagi negara, bahkan diperkirakan sumbangan devisa dari para TKW ini mencapai lebih dari Rp162 triliun. Lihatlah pada saat menjelang lebaran, triliunan rupiah mengalir deras ke pelosok-pelosok desa dari para TKW. Sayangnya, ketika banyak cerita duka yang menimpa para TKW yang sering mendapat perlakuan tidak manusiawi dari majikan di luar negeri, sedikit sekali perlindungan dari pemerintah, bahkan sekedar respon pun jarang terdengar beritanya. Lebih parah lagi yang sering kita dengar dari pemerintah justru menyalahkan si TKW yang dianggap ilegal atau pergi tanpa dokumen resmi.
Dalam catatan resma BNP2TKI, saat ini jumlah TKI yang bekerja di luar negeri mencapai 6 juta orang. Dari jumlah itu 4,5 juta di antaranya yang berangkat dengan dokumen resmi, selebihnya tak lengkap. Untuk sektor pekerjaan, dari 6 juta TKI tersebut hanya 30 persen saja yang bekerja pada sektor formal. Selebihnya yang 70% adalah para TKW yang bekerja pada sektor non formal, sebagai pembantu rumah tangga. Negara terbesar tujuan TKW adalah Malaysia dan Saudi Arabia. Sayangnya citra Indonesia di kedua negara tersebut kurang begitu baik.
Rendahnya citra Indonesia di kedua negara penampung TKW terbesar tersebut, cukup menyulitkan pemerintah untuk memberi perlindungan maksimal pada TKW. Selain itu, pemerintah juga lebih suka menerima devisa TKW daripada mengurusi penderitaan dan duka para TKW yang dianggap tidak akan pernah selesai dan selalu merepotkan. Disisi lain, pemerintah mengakui bahwa jasa para TKI sangat besar dalam pertumbuhan ekonomi nasional, misalkan 1 TKW pergi ke luar negeri berarti 1 pengangguran hilang dan 5 orang akan hidup layak dari kiriman uang TKW. Jadi bisa kita hitung, kalau misalkan ada 6 juta TKW berarti sekitar 30 juta orang terangkat dari kemiskinan karena aliran uang dari TKW.
Namun demikian alasan besarnya jasa TKW terhadap tingkat pertumbuhan ekonomi dan tingginya devisa negara dari para TKW, rupanya belum mampu membuka mata hati pemerintah untuk memberikan perlindungan yang lebih baik kepada para TKW. Perlakuan diskriminasi, pelecehan seksual, gaji tidak di bayar, di siksa dan diperlakukan tidak manusiawi oleh majikan di luar negeri masih sering terjadi. Perlakuan buruk aparat pemerintah di terminal TKI bandara Soekarno-Hatta, juga semakin melengkapi kisah duka para TKW.
Pertanyaan penutup sebagai bahan renungan kita semua adalah, apakah pemerintah menganggap TKW sebagai Pahlawan atau Pecundang? Semoga presiden terpilih nanti siapapun dia akan lebih memperhatikan nasib TKW dan mampu memberikan perlindungan maksimal. Semoga…










Memang benar sob apa yang dialami para TKW kebanyakan sangatlah menyedihkan. mereka lapor keperwakilan / sapara indo malah dimarahin bukannya membela bangsanya sendiri malah bela yang ngasih amplop.
disinilah jatuhnya martabat indonesia dari pemerintah juga warganya di mata orang asing. pernah saya dengar sendiri dari orang arab bahwa pemerintah indo bisa ditaklukkan dengan uang akhirnya TKW banyak yang nasibnya sengsara seperti pemerkosaan, penyiksaan, dan sebagainya akan dianggap enteng buat orang asing karena tak dibela haknya para TKW.
Pemerintah yang terkesan tutup mata tutup telinga mengakibatkan banyak TKW yang rusak moralnya mungkin karena dah stres lapor gak digubris akhirnya cari jalan pintas. nah kalau sudah begini benar mas bro ” TKW sebagai Pahlawan atau Pecundang?”